Aptek https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek <p>Jurnal Aptek diterbitkan dengan maksud untuk mengumpulkan artikel ilmiah dari penelitian, makalah, inovasi, prosiding seminar dan konsep ilmu pengetahuan dalam bidang teknik sipil dan teknik mesin atau yang relevan, kemudian mempublikasikan artikel tersebut. Jurnal APTEK terbit 2 kali dalam setahun pada bulan Januari dan Juli. Isi artikel yang di muat bukan cerminan sikap dan/atau pandangan redaksi. Seluruh Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. Jurnal Aptek Volume 1 No. 1 tahun 2009 sampai volume 11 No.1 tahun 2019 dipublish pada link <a href="http://e-journal.upp.ac.id/index.php/aptk/issue/archive">http://e-journal.upp.ac.id/index.php/aptk/issue/archive</a>. Kemudian untuk meningkatkan pengelolaan jurnal ini, maka pada tahun 2019 sampai sekarang yakni Volume 11 No. 2 tahun 2019 sampai Volume terakhit terbit pada link <a href="http://journal.upp.ac.id/index.php/aptek">http://journal.upp.ac.id/index.php/aptek</a>&nbsp;</p> en-US padalumba@gmail.com (pada lumba) heri.suriptodotone@gmail.com (heri suripto) Sat, 09 Jan 2021 00:00:00 +0800 OJS 3.3.0.5 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 KOMPARASI MODEL PERAMALAN DEBIT SUNGAI MENGGUNAKAN ANN- SOM ANN PADA SUB DAS TAPUNG KIRI https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/532 <p>Sub daerah aliran sungai Tapung Kiri merupakan bagian dari daerah aliran sungai Siak yang dikategorikan sebagai daerah aliran sungai kritis dan kawasan rawan bencana banjir. Potensi terjadinya banjir disebabkan oleh tingginya curah hujan diwilayah tengah, hulu dan di sepanjang daerah aliran sungai yang telah mengalami perubahan tata guna lahan. Pada penelitian ini, dilakukan model peramalan debit dengan menggunakan metode <em>artificial neural network</em>, diharapkan untuk menyediakan data peramalan debit yang lebih terpercaya untuk masa yang akan datang sehingga dapat menjadi acuan bagi sistem peringatan dini. Data yang digunakan adalah data ketinggian muka air sungai Tapung Kiri dari peralatan <em>automatic water level recorder</em> Pantai Cermin dengan panjang data selama 15 tahun, dimulai pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2019. &nbsp;Penelitian ini diharapkan bisa memberikan gambaran tentang&nbsp; keunggulan dari <em>artificial neural network</em> untuk digunakan sebagai sistem peringatan dini terhadap banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menggunakan metode <em>articial neural network</em> menghasilkan nilai koefesien korelasi pada tahap pelatihan sebesar 0,98, pada tahap pengujian sebesar 0,85 dan pada tahap validasi sebesar 0,89. Jumlah iterasi yang dibutuhkan pada metode <em>artificial neural network</em> adalah sebanyak 7515 <em>epoch</em>.</p> Mukhelnalis Sutazril, Imam Suprayogi, Ferry Fatnanta Copyright (c) 2021 Aptek https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/532 Sat, 09 Jan 2021 00:00:00 +0800 Menganalisis Pengaruh Ketidakberaturan Horizontal Torsi Terhadap Beban Gempa Pada Struktur Gedung Sistem Flat Slab-Drop Penel https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/531 <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh ketidakberaturan horizontal torsi. Struktur gedung berada di Kota Pekanbaru dengan fungsi sebagai hotel yang terdiri dari 19 lantai dengan ketinggian 62,1 m menggunakan material beton bertulang. Struktur gedung didesain dengan pembebanan gempa rencana yang menggunakan analisis respons spektum berdasarkan SNI 1726-2012. Pemodelan struktur gedung menggunakan tipikal denah struktur yang sama. Struktur dibagi menjadi dua model, yaitu Model A (dua lantai tingkat bawah menggunakan sistem <em>flat slab-drop panel</em>) dan Model B (keseluruhan lantai tingkat menggunakan sistem <em>flat slab-drop panel</em>). Hasil penelitian menunjukkan pada simpangan perpindahan, model A sebesar 1109,35 mm dan Model B sebesar menghasilkan simpangan perpindahan 1091,4 mm. Ketidakberaturan horizontal torsi ditinjau pada masing-masing lantai tingkat berdasarkan arah X dan Y. Ketidakberaturan torsi Model A pada arah X dan Arah Y dikategorikan memiliki ketidakberaturan torsi. Sedangkan ketidakberaturan torsi berlebih untuk arah X lantai tingkat 13, 14 dan <em>pool deck</em> tidak dikategorikan torsi berlebih, tetapi untuk arah Y semua lantai tingkat dikategorikan memiliki ketidakberaturan torsi berlebih. Sedangkan untuk Model B, ketidakberaturan torsi pada arah X dan Arah Y pada setiap lantai tingkat dikategorikan memiliki ketidakberaturan torsi. Ketidakberaturan torsi berlebih untuk arah X lantai tingkat 8 sampai dengan tingkat <em>pool deck</em> tidak dikategorikan torsi berlebih, akan tetapi lantai tingkat <em>semibasement</em> sampai dengan tingkat 7 dikategorikan memiliki ketidakberaturan torsi berlebih. Untuk arah Y semua lantai tingkat dikategorikan tidak memiliki ketidakberaturan torsi berlebih<em>.</em> Jika dibandingkan antara Model A dan B, Model B lebih dapat menahan momen torsi berlebih dibandingkan dengan Model A. Pengaruh momen torsi tersebut disebabkan adanya eksentrisitas antara pusat massa bangunan dengan pusat rotasi bangunan.</p> Harriad Akbar Syarif, Zulfikar Djauhari , Ridwan . Copyright (c) 2021 Aptek https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/531 Sat, 09 Jan 2021 00:00:00 +0800 MESIN PENCACAH PERANCANGAN MESIN PENCACAH PELEPAH SAWIT UNTUK PAKAN TERNAK DENGAN MENGGUNAKAN METODE DFMA (DESIGN FOR MANUFACTURE ANDASSEMBLY) https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/498 <p>Mesin pencacah pelepah sawit merupakan alat untuk mencacah pelepah sawit yang digunakan sebagai pakan ternak khususnya sapi dan mengurangi sampah bekas panenen pelepah sawit. Penyediaan pakan ternak merupakan suatu permasalahan yang harus segera dapat diatasi, seperti hamparan rumput untuk diarit sudah terbatas,&nbsp; waktu yang banyak dan tenaga yang lebih besar karena harus di arit/potong lalu&nbsp; (dikumpulkan) dari desa lain yang cukup jauh dari lokasi peternakan. Salah satu cara untuk mengatasi ketersediaan pakan tersebut adalah dengan adanya mesin pencacah&nbsp; pelepah kelapa sawit. hasil proses cacahan&nbsp; pelapah kelapa sawit yang dicampur dengan unsur konsentrat <em>&nbsp;</em>merupakan salah satu jenis pakan yang di sukai ternak sapi, bahkan dapat menggemukkan sapi. tujuan khusus peneliti ini adalah untuk merancang dan nantinya dapat membuat alat pencacah pelapah kelapa sawit, yang murah dan effisien, dengan menggunakan metode DFMA, Tahapan metode penelitian pertama melalui <em>interview</em> langsung kepada calon pengguna alat yang peneliti akan rancang. Ke-2: Setelah mendapat masukan dan data dari hasil <em>interview</em> calon pengguna, peneliti akan mencoba men-sket. Ke-3: peneliti akan mencari referensi dari <em>internet</em> baik itu dari jurnal maupun dari perusahaan yang menjual produk ini, &nbsp;Ke-4: Peneliti kembali meng <em>interview</em> kepada colon pengguna dengan membandingkan yang didapat dari <em>internet</em>. &nbsp;Ke-5: Memikirkan masukan~masukan&nbsp; bentuk desain, material, dan lain~lain. agar hasil penelitian lebih sempurna. Ke-6: setelah ditemukan bentuk baik masih berupa sket atau desain lalu digambar menggunakan <em>software Autodesk Inventor.</em> Luaran yang ditargetkan nantinya adalah sebuah rancangan alat pencacah kelapa sawit, yang lengkap dan detail dan siap untuk dibangun atau dibuat, menjadi produk. Uraian TKT penelitian yang diusulkan asumsi dan hukum dasar yang akan digunakan pada teknologi, Studi literatur tentang prinsip dasar teknologi, Formulasi hipotesis penelitian sudah mendekati sempurna, tetapi untuk Karakterisasi komponen teknologi yang akan dikembangkan belum sepenuhnya&nbsp; dikuasai dan dipahami.</p> pul anwar, M. Yunan Nasution Copyright (c) 2021 Aptek https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/498 Sat, 09 Jan 2021 00:00:00 +0800 Peringkat Terhadap Masalah Rework Pada Kegiatan Pembangunan Fisik https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/571 <p>Pada pelaksanaan kegiatan pembangunan fisik di desa sangat sulit terhindar dari terjadi pekerjaan pengulangan (<em>rework</em>).<em> Rework</em> adalah salah satu faktor penyebab utama terjadinya pembengkakkan biaya bahkan keterlambatan pada pembangunan fisik di desa, sehingga berpotensi merugikan keuangan pemerintah desa. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan peringkat terhadap masalah <em>rework</em> ditinjau terhadap aspek manajerial pada kegiatan pembangunan fisik desa yang bersumber dari dana desa tahun 2019. Metode penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada seluruh perangkat desa, skala pengukuran yang dipakai adalah skala Likert, uji validitas dan reliabilitas data menggunakan teknik korelasi <em>product moment</em> dengan taraf signifikan 5%. Teknik analisis yang dipakai menggunakan rumus indeks kepentingan dari faktor <em>rework</em> terhadap aspek manajerial. Hasil analisis indeks kepentingan diperoleh bahwa peringkat terhadap masalah <em>rework</em> ditinjau dari aspek manajerial pada pembangunan fisik Desa Bangun Purba Timur Jaya Kabupaten Rokan Hulu melalui dana desa tahun 2019 berdasarkan urutan ranking adalah: (1) kurangnya <em>teamwork</em>; (2) kurangnya kontrol; (3) buruknya alur informasi; (4) kurangnya informasi di lapangan; (5); jadwal yang terlalu padat; (6) pertimbangan yang salah di lapangan; (7) kurangnya antisipasi keadaan alam.</p> <p><sub>&nbsp;</sub></p> <p><strong>Kata kunci</strong>: bangun purba timur jaya; infrastruktur desa; <em>rework</em>.</p> Arifal Hidayat, Yuli Afrina Copyright (c) 2021 Aptek https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/571 Sat, 09 Jan 2021 00:00:00 +0800 Penentuan Nilai Hirarki Rancang Bangun Reaktor Pembuat Foaming Agent Pemadam Kebakaran Lahan Gambut Menggunakan AHP dengan Aplikasi Expert Choice https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/533 <p>Usaha untuk memudahkan proses pengambilan keputusan dalam rancang bangun pembuatan reaktor pembuat <em>foaming agent</em> pemadam kebakaran lahan gambut, perlu ditentukan bobot struktur setiap tahapan kegiatan yang dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan nilai masin-masing kriteria dan alternatif untuk mempercepat proses pengambilan keputusan setiap aktivitas kegiatan rancang bangun. Hierarki kriteria tersebut adalah studi referensi, pengembangan data perancangan, gambar dan simulasi, manufaktur, kommisioning dan validasi. Sedangkan untuk hierarki alternatif adalah handal, safety, operasional mudah. Metode yang digunakan untuk menentukan nilai bobot tersebut adalah menggunakan AHP <em>(Analytic Hierarchy Process),</em> dengan aplikasi <em>Expert Choice. </em>Hasil pengolahan data penilaian bobot prioritas tertinggi adalah kriteria manufaktur nilainya 0.313, kemudian hasil bobot alternatif tertinggi adalah handal nilainya 0.417. Hasil analisis konsistensi tingkat kriteria adalah 4%, karena nilai konsistensinya di bawah 10% maka penilaian prioritas kriteria dapat diterima. Dari hasil tersebut terlihat bahwa kriteria manufaktur merupakan prioritas yang perlu mendapat perhatian dalam proses rancang bangun pembuatan reaktor pembuat <em>foaming agent</em>, dengan hasil produk yang dihasilkan dituntut memiliki tingkat kehandalan yang perlu diperhatikan.</p> Purwo Subekti Copyright (c) 2021 Aptek https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/533 Sat, 09 Jan 2021 00:00:00 +0800 Analisis Kelayakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya; sebuah review berdasarkan data histori, metode analisis, dan nilai ekonomi https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/490 <p>Saat ini kebutuhan akan energi ramah lingkungan sangat berperan penting dalam kelangsungan mahluk hidup. Energi baru terbarukan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan energi yang ramah lingkungan. Penelitian ini melakukan secara review dari kelayakan pembangkit listrik tenaga surya secara ekonomi Tahapan review telah disajikan pada pembahasan, dimana review dilakukan dengan menampilkan data dari 9 artikel indonesia yang membahas tentang analisis kelayakan pembangkit listrik tenaga surya secara ekonomi. Dari hasil review artikel tersebut, 5 artikel menampilkan NPV dan 6 artikel menampilkan lifetime dari pembangkit listrik tenaga surya. Nilai NPV yang dihasilkan menyatakan kelayakan dari pembangkit listrik tenaga surya dan lifetime rata-rata diatas 20 tahun, dengan artian usia tersebut telah memasuki tahap benefit dari 10 tahun awal modal kembali.</p> Heri Suripto, Ahmad Fathoni Copyright (c) 2021 Aptek https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/490 Sat, 09 Jan 2021 00:00:00 +0800 PENGARUH BENTUK DAN CAMPURAN BUTIRAN PASIR TERHADAP PERILAKU KUAT GESERNYA https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/484 <p>Campuran dan bentuk butiran pasir, merupakan sebagian faktor yang mempengaruhi sifat teknis pasir yaitu kuat geser, dan hal ini perlu diperhatikan supaya pengaruhnya dapat dimaksimalkan untuk konstruksi yang berhubungan dengan pasir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara menganalisis bentuk butiran pasir dan menganalisa perilaku sudut geser (ϕ) akibat pengaruh campuran dan bentuk butiran. Pengujian dilakukan dengan membuat variasi bentuk campuran pasir , dalam 5 variasi dengan kerapatan relatif sebesar 70% dan 20%, yang tertahan pada saringan No. 20. Bentuk butiran pasir terdiri dari 2 bentuk, yaitu kelompok butiran bersudut (<em>angular</em>) dan bulat (<em>rounded</em>), yang dibedakan berdasarkan nilai <em>roundness</em> (R), <em>sphericity</em> (S) dan <em>regularity</em> (ρ), yang diproses menggunakan <em>imageJ</em>. Hasil penelitian menunjukkan, analisa bentuk butiran pasir menggunakan <em>imageJ</em>, diperoleh tingkatan bentuk butiran dari kedua pasir, yaitu semi bersudut (<em>sub-angular</em>) dan semi bulat (<em>sub-rounded</em>). Perbandingan sudut geser bentuk pasir <em>sub-angular</em> lebih besar dari pada <em>sub-rounded, </em>hal ini disebabkan pasir berbentuk sudut saling mengikat satu sama yang lain yang disebut dengan <em>interlocking</em> sehingga sudut gesernya lebih besar. Hasil perbandingan sudut geser (ϕ) di antara variasi campuran bentuk butiran pasir yang dikombinasikan dengan kerapatan relative (<em>D<sub>r</sub></em>) yang sama 20%, terlihat ada perbedaan perilaku sudut geser (ϕ) di antara ketiga variasi bentuk campuran pasir, yaitu variasi <em>sub-angular</em> 75% ditambah <em>sub-rounded</em> 25%, lebih tinggi dari sampel <em>sub-angular</em> 50% ditambah <em>sub-rounded</em> 50% dan <em>sub-angular</em> 25% ditambah <em>sub-rounded</em> 75% yaitu sebesar 44,59⁰. Hal ini disebabkan karena variasi <em>sub-angular</em> 75% ditambah <em>sub-rounded</em> 25% pada bidang gesernya didominasi oleh fraksi butiran <em>sub-angular</em>. Hasil perbandingan sudut geser (ϕ) di antara variasi campuran bentuk butiran pasir yang dikombinasikan dengan kerapatan relative (<em>D<sub>r</sub></em>) yang sama yaitu 70%, terlihat ada perbedaan perilaku sudut geser (ϕ) di antara ketiga variasi bentuk campuran pasir, yaitu variasi <em>sub-angular</em> 25% ditambah <em>sub-rounded</em> 75%, lebih tinggi dari sampel <em>sub-angular</em> 50% ditambah <em>sub-rounded</em> 50% dan <em>sub-angular</em> 75% ditambah <em>sub-rounded</em> 25% yaitu sebesar 40,95⁰. Hal ini disebabkan karena variasi <em>sub-angular</em> 25% ditambah <em>sub-rounded</em> 75% pada bidang gesernya didominasi oleh bentuk butiran <em>sub-Angular.</em></p> Yoyon Kurniawan, Muhamad Yusa, Ferry Fatnanta Copyright (c) 2021 Aptek https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/484 Sat, 09 Jan 2021 00:00:00 +0800 Pengaruh Bentuk Partikel dan Waktu Pembebanan Terhadap Kuat Geser Tanah Pasir https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/483 <p>Time is a scale which is the duration of an event and the shape of the sand grains, is one of the factors that influence the technical properties of sand on its shear strength. The purpose of this study was to determine how to analyze the time required and the shape of the sand grains in analyzing the behavior of the shear angle (ϕ) due to the influence of grading and grain shape. The results showed, analysis of the form of sand grains using imageJ, obtained the level of the grains of the two sands, namely semi angular and semi-round. The ratio of the shear angles between the variations of the gradations, namely the gradient which is dominated by the coarse grain fraction of 60%, and the gradation which has a long grain distribution, has a high shear angle (ϕ). The ratio of the shear angle between the sand grains, namely sand with a semi-angled shape has a higher shear angle (ϕ) than sand with a semi-spherical shape.</p> Azizah ., Muhamad Yusa, Ferry Fatnanta Copyright (c) 2021 Aptek https://journal.upp.ac.id/index.php/aptek/article/view/483 Sat, 09 Jan 2021 00:00:00 +0800